Sh’ma

(Lakukanlah itu dan engkau akan hidup)

Lukas 10:25-28

Oleh: Ps. Sunaryadi

Apa yang sebetulnya terkandung dalam hati kita? Shema bukan mantra atau jimat. Tuhan Yeshua menerangkan inti dari Torah, yaitu mengasihi Bapa YHWH dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan; serta mengasihi manusia seperti diri sendiri. Torah mengajarkan kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan kebenaran, sehingga dapat mewarisi hidup yang kekal. Memang tidak mudah. Oleh karena itu, kita perlu pengampunan melalui darah Tuhan Yeshua dan Roh Kudus untuk dapat melakukannya. Perlu kasih karunia untuk mewarisi hidup yang kekal.

Iman dan perbuatan

Bapa di surga menghakimi kita menurut apa yang kita lakukan dan katakan, bukan pada apa yang kita percayai. Jadi, iman menurut Alkitab, adalah apa yang kita lakukan (perbuatan kebenaran) dan hasil hubungan kita dengan Tuhan. Iman bukan memercayai kumpulan doktrin tertentu, tetapi iman yang Alkitab tuliskan adalah hubungan terhadap Tuhan yang menghasilkan buah (bahasa asli: emunah). Emunah adalah iman yang aktif (trust) menekankan pada perbuatan, hal-hal yang praktis dan membumi. Kata “pistis,” menekankan pada aspek mental dan knowledge, bukan secret (hidden knowledge).

Perintah Tuhan yang utama

Saat Tuhan ditanya oleh ahli kitab tentang hukum yang terutama, Tuhan Yeshua menjawab:

  1. “Sh’ma Yisrael, YHWH, Eloheynu, YHWH echad (Markus 12:29-31). Artinya, kita mengakui bahwa Bapa YHWH adalah satu-satunya Penguasa dan yang kita sembah. Inilah esensi dari sh’ma.
  2. Mengasihi sesama seperti diri sendiri

Tuhan mengutip dari Ulangan 6:4-5. Jadi, Sh’ma, artinya dengar dan lakukan. Ini menjadi panggilan untuk membawa setiap aspek kehidupan kita ke hadapan satu-satunya Tuhan yang hidup dan benar, yaitu Tuhan Yeshua; sehingga setiap aspek hidup kita kudus. Jangan sampai ada yang lain, yang menggantikan posisi Tuhan. Tuhan Yeshua harus menjadi satu-satunya Tuan dan Penguasa dalam setiap aspek kehidupan kita.

Iman akar Ibrani tidak membedakan antara kehidupan sekuler dan religius. Setiap segi atau aspek hidup kita harus dikuduskan. Bahaya kekristenan yang saat ini berkembang, adala iman yang mengotakan. Contoh, dalam bisnis kita tidak melibatkan Tuhan, mungkin kita lebih menekanna pada koneksi, besar modal, dan sebagainya.

Melakukan Sh’ma

Sh’ma begitu kekuatan dan kepuasan dalam hidup kita. Karena, kita membawa Tuhan (melakukan kehendak Tuhan) dalam setiap aspek hidup kita. Melakukan sh’ma, artinya:

  • Kita hidup di dalam Dia
  • Hidup menyatu dengan Tuhan (in union with Christ), artinya menjadi satu roh dengan Dia.

Sh’ma merupakan kunci untuk membawa kita pada:

  1. Spiritualitas (kerohanian) yang benar
  2. Penyembahan yang diterima Tuhan
  3. Pemuridan yang sejati
  4. Kehidupan yang berintegritas (kesatuan roh, tubuh, jiwa; kesatuan dengan Tuhan)

Sh’ma adalah panggilan untuk mengasihi Bapa dan sesama dalam praktik hidup sehari-hari. Rasul Yohanes mengatakan bahwa tidak mungkin mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan, bila kita tidak bisa mengasihi sesama yang kelihatan.

Tiga aspek mengasihi Tuhan:

  1. Hati: motivasi, emosi, perasaan, tekad, kemauan, dan komitmen
  2. Jiwa: pikiran, pengertian
  3. Perbuatan

Manfaat yang besar dari melakukan sh’ma:

  1. Memperkatakan perkataan firman, khususnya perkataan Tuhan Yeshua dengan iman dan sikap hati yang benar, serta mempersilakan Roh Kudus membuat jadi apa yang kita katakan (Bilangan 14:28).
  2. Seruan untuk mempersatukan.

Kesatuan adalah sebuah kekuatan. Karena itu, kesatuan dengan Tuhan akan membawa kita pada hidup yang kekal, kemuliaan, otoritas (kuasa), dan damai sejahtera (shalom). Juga, kesatuan tubuh, jiwa, dan roh, yang membuat kita menjadi manusia ilahi. Serta, kesatuan dalam jemaat, sehingga membuat jemaat menjadi kuat. Dan, kesatuan dengan bangsa pilihan.

KESIMPULAN

Sh’ma adalah seruan kita kepada Tuhan, yang menyatakan bahwa Bapa YHWH adalah satu-satunya Tuhan yang layak untuk disembah dan harus kita kasihi dengan seluruh aspek hidup kita. Melalui tindakan iman dan perbuatan, tidak hanya kepada Tuhan, tetapi juga kepada kasih kepada sesama.

Posted on November 15, 2017 in Sermon

Share the Story

Back to Top