Berkat Akhir Zaman

Ps. Lokky S.Tjahja

Biarlah setiap kita memacu diri supaya bukan sekadar melayani atau sekadar datang ke gereja, melainkan setiap kita harus dapat menangkap rencana Tuhan. Kita harus mengalami pertumbuhan rohani dalam pengenalan akan Tuhan dan mengaplikasikan kebenaran firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini kita sedang mengikuti rangkaian Hari Raya Sukkot. Hari raya-hari raya ini bukanlah hari raya hasil pemikiran manusia atau ide bapak bapak gereja, melainkan hari raya yang Tuhan perintahkan dan tertulis di Kitab Suci. Ada 3 hari raya besar dalam Kitab Suci, yaitu Paskah (di dalamnya ada hari raya paskah, roti tidak beragi, dan buah sulung), Pentakosta (Shavuot), dan Sukkot (terdapat hari raya Peniupan Nafiri atau Yom Teruah, Yom Kippur atau pendamaian, dan Sukkot). Hari raya Sukkot dirayakan selama 7 hari. Dan, jarak dari hari raya Yom Teruah hingga hari Raya Sukkot hari ke-7 tepat selama 21 hari, sehingga umat Tuhan dapat mengikuti dengan puasa Daniel.

Hari raya dalam wujud Tabernakel

Wujud bagian-bagian kemah suci merupakan gambaran hari raya-hari raya. Bagian halaman adalah gambaran Hari Raya Paskah. Yaitu, orang datang untuk membereskan dosa-dosanya dengan membawa korban (darah Tuhan Yeshua) dan membasuh diri, sehingga diubahkan menjadi orang benar. Bagian ruang suci adalah gambaran Hari Raya Pentakosta. Yaitu, orang-orang yang hidup benar melayani Tuhan dan menggali firman Tuhan dengan pertolongan Roh Kudus. Bagian ruang maha suci adalah gambaran Hari Raya Sukkot. Yaitu, orang yang benar menjadi sempurna (gambaran surga), tapi kita bisa menikmati suasana sekinah glory, karena tirai ruang maha suci sudah terbelah (dari atas ke bawah) saat Tuhan Yeshua menggenapi rencana Bapa di atas kayu salib. Konsep dari mezbah korban bakaran sampai ke tabut di ruang maha suci merupakan proses perjalanan hidup kita untuk menjadi sempurna dan menggenapi rencana Bapa.

Hari Raya Sukkot atau Pondok Daun (sukkah/ kemah). Bangsa Israel diperintahkan untuk membangun pondok-pondok pada saat hari raya Sukkot dan tinggal di situ. Karena, pondok digambarkan sebagai tempat tinggal sementara. Sehingga, kita pun ingat bahwa dunia ini adalah tempat tinggal kita sementara. Sedangkan, tempat kita yang sebenarnya dan kekal adalah di surga bersama dengan Bapa Pencipta. Pemazmur mengatakan bahwa umur manusia hanya sebatas 70-80 tahun, itu artinya kita tidak selamanya hidup di dunia. Namun, yang penting perbuatan apa yang kita lakukan saat ada di dunia. Ini yang akan mereflesikan berkat-berkat kekal menjadikan kita sempurna atau tidak.

Berkat Akhir Zaman (Ibrani 11:40)

Kita harus memacu diri menjadi orang-orang Kristen rajawali. Saat ada berita-berita di dunia, tidak takut dan tidka khawatir. Sebab, rajawali saat ada badai justru akan mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi. Sayap rajawali hari harus kita miliki, yaitu firman Tuhan dan roh Kudus yang akan membawa kita pada kemulian. Tanda-tanda awal akhir zaman, salah satunya bencana alam. Namun, hal ini jangan membuat kita takut. Justru, kita harus bisa membaca tanda-tanda zaman dan menjadi Kristen rajawali.

Ibrani 11 mulai ayat 1 dipaparkan kisah hidup tokoh-tokoh iman. Dan, ayat ke 40 menjelaskan bahwa tanpa kita, tokoh-tokoh iman belum mencapai kesempurnaan. Artinya, peranan gereja yang mengkuti kebenaran Tuhan sangat penting. Karena itu, kita perlu bersyukur, sebab ini adalah berkat khusus dari Tuhan untuk orang-orang yang hidup di akhir zaman. Jadi, paculah diri untuk menggali dan melakukan firman Tuhan. Sebab, tantangan zaman akan semakin besar dan berat. Oleh karena itu, kita perlu memacu diri menjadi Kristen rajawali, yang terus terbang tinggi mengatasi badai kehidupan. Selalu mengarahkan pandangan kita pada Tuhan.

Menderita dulu, senang kemudian (Matius 16:26)

Tidak ada gunya bila seseorang memeroleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya. Nyawa manusia sangat berarti. Sebab, Tuhan Yeshua berkorban nyawa untuk menebus nyawa kita dari maut. Karena itu, nyawa tidak bisa dibandingkan dengan seiisi dunia. Sebab, nyawa kita lebih mahal daripada apa pun yang ada di dunia. Kisah Lazarus yang miskin bahkan untuk makan remah-remah harus berebut dengan anjing dari meja orang kaya. Akhirnya, mereka meninggal. Lazarus duduk di pangkuan Abraham, sedangkan orang kaya ini berada di neraka yang sangat panas. Sehingga, dia kehausan dan meminta setetes air pada Lazarus (Lukas 16:24-26).

Pilihan ada di tangan kita, menderita dulu lalu senang, seperti Lazarus. Atau, senang-senang lebih dulu, tapi kemudian menderita. Terkadang, kita hanya fokus pada perkara-perkara di dunia dan kurang menghargai hal-hal rohani. Semasa hidup kita yang sementara ini, Tuhan berikan hal-hal rohani supaya kita bisa menjadi sempurna dan bisa menikmati apa yang Bapa sudah sediakan bagi kita. Karena itu, hal-hal rohani yang Tuhan ajarkan lewat firman-Nya, sebaiknya kita taati. Jangan terikat dengan hal-hal di dunia, karena semuaya hanya sementara. Namun, kalau Tuhan izinkan kita dipercaya dengan harta, kedudukan, dan pengaruh yang besar, pakailah semua itu untuk diproyeksikan kepada kekekalan. Karena, hal itu adalah kesempatan kita mengumpulkan harta di surga selama kita hidup di dunia. Namun, bila kita tidak memanfaatkannya dengan benar, kita tidak bisa menggenapi rencana Bapa, bahkan mengalami mati kekal.

Miskin di mata dunia (Yakobus 2:5)

Terjemahan Amplified ditulis, “… who are poor in the eyes of the world …” Kita adalah orang miskin di mata dunia. Kita terpanggil sebagai imamat yang rajani, artinya tidak mendukung di dalam hal keuangan, tetapi juga harus terlibat di dalam pelayanan secara langsung. Misalnya, berdoa, berkunjung di rumah sakit untuk mendoakan, dan pelayanan lainnya. Karena itu, tidak perlu khawatir bila kita dipandang miskin oleh dunia. Sebab, orang-orang yang miskin di mata dunia adalah orang yang kaya di dalam iman bahkan menjadi pewaris surga bagi yang mengasihi Tuhan. Mengasihi Tuhan, artinya memegang perintah-perintah Tuhan dan melakukannya. Kalau kita dipercaya harta yang banyak, justru kita harus memacu diri semakin rohani (bandingakan Matius 19: 16-21). Bukan berarti kita tidak boleh kaya, melainkan Tuhan menghendaki supaya hati kita tidak melekat pada harta. Sebab, cinta akan uang adalah akar segala kejahatan.

KESIMPULAN

Karena itu, supaya kita menjadi sempurna dan menggenapi rencana Tuhan adalah menjadikan Tuhan sebagai hal yang terutama di dalam hidup kita dan kumpulkan harta di surga (Matius 6: 20-21) supaya hati kita pun melekat di surga. Dan, carilah dulu kerajaan Tuhan dan kebenaran-Nya (Matius 6:33). Karena itu, bersyukurlah bila kita dapat belajar kebenaran firman Tuhan.

Posted on October 19, 2017 in Sermon

Share the Story

Back to Top