Jangan Akal-akalan dengan Tuhan

Ayub 5:12-13

Oleh: Pnt. Ir. Lokky S. Tjahja

Biarlah kita semua tetap memiliki kerendahan hati di dalam menjalani kehidupan. Yang artinya, mengakui otoritas dan kuasa Tuhan. Jangan angkuh karena harta, kekayaan, kepintaran, jabatan, dan sebagainya. Sebab, keangkuhan akan membentengi hidup kita sehingga firmna Tuhan tidak dapat berbicara. Dan, ibadah sekadar rutinitas atau agamawi yang tidak berdampak.

Tuhan menghendaki kita tulus dan jangan akal-akalan dengan-Nya, contohnya memberi karena ingin diberkati, mengembalikan perpuluhan untuk menunjukkan kemurahan hati kita, dan sebagainya. Jangan melakukan sesuatu karena ingin mendapat sesuatu. Namun, Tuhan menghendaki kita cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Bila seseorang hanya cerdik saja, tetapi tidak tulus berarti dia ada di pihak setan. Contohnya, dalam dunia usaha kita membohongi atau menipu orang lain, tetapi juga jangan sampai kita yang dibohongi. Tulus-tulusan saja sama Tuhan.

Perbedaan hikmat Tuhan dan hikmat manusia

  1. Hikmat Tuhan (Yakobus 1:5)

Mungkin ada di antara kita, lemah dalam bidang tertentu. Namun, kita perlu ingat bahwa setelah Tuhan selesai menciptakan Tuhan mengatakan bahwa segala sesuatu sangat baik. Kita tidak diciptakan sendiri di dunia, kita membutuhkan orang lain, dan sebaliknya. Karena itu, bila kita lemah atau kurang hikmat, mintalah pada Tuhan. Tuhan bisa memberikan hikmat kepada kita. Sebab, hikmat Tuhan jauh melebihi segala hikmat yang ada di dunia ini. 2. Hikmat dunia (Ayub 5:13)

Sehebat-hebatnya hikmat dunia masih jauh lebih hebat hikmat Tuhan. Karena itu, kita harus menyadari bahwa manusia tidak ada apa-apanya. Karena itu, jangan sombong, tetapi akui Tuhan dalam segala hal. Paulus mengatakan bahwa hikmat dunia adalah kebodohan di hadapan Tuhan (1 Korintus 3:19). Meskipun mendapat penghargaan dari dunia, tetapi bila tidak mengenal Tuhan; semua itu tidak ada artinya. Karena itu, jangan sombong dan merasa hebat (1 Korintus 3:18). Hikmat dunia pada umumnya tidak mengakui Tuhan. Dan, Bapa YHWH mengetahui pikiran-pikiran manusia dan semuanya itu sia-sia (1 Korintus 3:20). Itulah sebabnya raja Salomo mengatakan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia. Sebab, raja Salomo memiliki banyak harta, banyak istri, bisa melakukan apa pun, dan Salomo tahu bahwa segalanya itu sia-sia.

Perbedaan pikiran Tuhan dan manusia, jauhnya seperti langit dan bumi (Yesaya 55:8-9). Versi Amplified, “For My thoughts are not your thoughts..” Artinya pikiran dan rancangan Tuhan beda kita. Betapa hebatnya Tuhan kita. Sebab, di hadapan Tuhan kita bukan apa-apa.

Orang yang semakin mengenal Tuhan, kita akan semakin merasa bahwa dirinya kecil dan tidak ada apa-apa. Seseorang yang bertumbuh secara rohani dengan benar adalah orang yang semakin rendah hati, sebab bisa melihat kehebatan dan kebesaran Tuhan. Karena itu, mari kita memiliki sikap hati yang tulus dan segala yang kita lakukan untuk kemuliaan Tuhan. Saat beribadah, melayani, atau mendukung pekerjaan Tuhan seharusnya kita bersikap tulus di hadapan Tuhan. Jnagan merasa kalau tidak ada kita, pekerjaan Tuhan tidak bisa berjalan. Sebab, sebenarnya kita yang sangat butuh Tuhan, bukan Tuhan yang butuh kita.

Yang bodoh dari Tuhan, masih lebih bijaksana dari yang di dunia (1 Korintus 1:25-30)

Tuhan Yeshua diberikan ke dunia, karena itu adalah bagian rencana Bapa. Tuhan ingin membawa kita, sebagai umat-Nya untuk mendapat hikmat dari surga. Tuhan Yeshua lahir sebagai hikmat dari surga di dalam rencana Bapa. Sehingga, kita yang percaya pada-Nya semakin serupa dengan DIA. Kita yang mengasihi Tuhan, akan ditambahkan hikmat surgawi oleh Tuhan.

Kesimpulan

Orang yang menjagai hidupnya kudus di hadapan Tuhan, adalah orang yang menyediakan tempat tinggal untuk Tuhan dalam dirinya. Belajar untuk menaklukkan kesombongan kita, supaya Roh Kudus dapat bekerja melalu firman-Nya. Sehingga, firman Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia. Dan, kerendahan hati perlu belajar dan latihan. Mari kita beri Tuhan ruang dalam hati kita, supaya Dia berkarya dalam hidup kita.

Posted on October 19, 2017 in Sermon

Share the Story

Back to Top