Korach’s Ego

Bilangan 16: 1-11

Oleh : Ps Ivan Sebastian

Kita belajar tentang seorang yang bernama Korah. Dia berasal dari suku Lewi dan melayani di Tabernakel, bahkan dalam interpretasi para nabi; dia adalah salah satu orang yang mengangkat tabut perjanjian. Kita tahu bahwa Korah memberontak melawan Musa. Namun, apa kisah di balik perbuatan Korah?

Penyebab Korah berselisih dengan Musa

Midrash Rabba and Rashi’s Commentary mencatat bahwa Elitzafan dinobatkan sebagai pemimpin dari keluarga Kehat (Bilangan 3:30). Korah berargumen, “Ayahku salah seorang dari 4 anak-anak Kehat: Amram, Yitzhar, Hebron, dan Uzziel (Kel. 4:18). Anak sulung Amram, Harun, diangkat pada posisi terhormat dalam keimaman dan Musa, sebagai pemimpin bangsa. Siapa seharusnya yang berhak menerima posisi berikutnya? Bukankah garis keturunan berikutnya? Aku, anak Yitzhar, seharusnya berhak menjadi pemimpin keluarga Kehat. Namun, Musa justru mengangkat anak Uzziel! Pantaskah yang bungsa dari saudara ayahku berada di posisi lebih tinggi dari aku? Lihat, aku akan menentang keputusan itu dan mengacaukan semua yang telah diaturnya.”

Jadi, yang mengawali Korah tidak suka pada Musa adalah ego. Dia merasa Musa sudah merendahkan dirinya dengan mengangkat Elitzafan. Karena, sebenarnya Korah mengicar posisi imam besar (posisi Harun). Sebab, imam besar bisa masuk dalam ruang maha suci dan mendapatkan bagian-bagian yang terbaik dari persembahan bangsa Israel. Ego Korah membuat dia berambisa untuk mendapatkan posisi tertinggi. Korah merasa bahwa Musa tidak adil. Namun, reaksi Musa bukannya marah, melainkan menyerahkan kepada Tuhan (Bil. 16:5).

Hasutan Korah

Salah satu interpretasi rabbinic mencatat bahwa Korah menghasut rakyat Israel dengan menyebarkan cerita bohong. Dia berkata: “Seorang tetangganya adalah janda punya 2 anak perempuan dan memiliki ladang. Ketika dia hendak membajaknya, Musa berkata, “Jangan membajaknya dengan lembu dan keledai bersamaan” (Ul. 22:10). Ketika dia hendak menabur, Musa berkata, “Janganlah kamu menabur 2 benih berbeda di ladang (Im. 19:19). Tiba musim panen, Musa berkata, “Tinggalkan sisa yang jatuh di pinggir ladang” (Ul.22:9; 24:19). Ketika janda ini hendak membuat lumbung, Musa berkata, “Berikan persepuluhan bagian imam dan persepuluhan pertama dan ke dua.” Janda ini menaatinya, lalu dia menjual ladangnya dan membeli 2 ekor domba, supaya dia bisa membuat pakaian dan mendapat keuntungan dari anak-anak domba itu. Tidak lama ketika domba itu melahirkan, Harun mendatanginya dan berkata, “Berikan anak sulung domba itu kepadaku, karena TUHAN berkata: “Semua anak sulung haruslah engkau kuduskan untuk TUHAN” (Ul. 15:19). Dia memberikannya kepada Harun. Lalu, tiba musim menggunting bulu, datanglah Harun dan berkata, “Berikanlah guntingan pertama karena itu perintah Tuhan” (Ul. 18:14). Janda ini berkata, “Aku sudah tidak tahan! Aku akan potong dan makan domba ini!” Setelah domba dipotong, Harun datang dan berkata, “Berikan bagian paha, pipi, dan perut” (Ul. 18:3), dan seterusnya. Inilah yang mereka (Musa dan Harun) dan mengatakan semuanya ini untuk Tuhan.”

Ego Korah yang tersinggung karena Tuhan lebih memilih Elitzafan. Korah punya niat hati yang jahat sehingga dia mengarang cerita seolah-olah mengejek apa yang dikatakan oleh Musa. Karena egonya, Korah lupa bahwa yang memberi aturan adalah Tuhan. Korah dibutakan oleh egonya sehingga tidak sadar bahwa sebenarnya dia sedang berhadapan dengan Tuhan, bukan dengan Musa. Korah dan para pemimpin yang terhasut mengejek perkataan Musa dan aturan-aturan yang Tuhan berikan. Dan, hidup mereka berakhir tragis.

Nasihat Yudas

Nama Korah muncul kembali dalam perjanjian baru (Yudas 1: 10-11, CJB). Yudas ingin menasihati untuk tidak memiliki sifat seperti Korah dan pengikutnya. Korah dan pengikutnya tidak mengerti alasan Tuhan memberikan perintah dan aturan-aturan melalui Musa. Karena, menurut mereka yang dikatakan Musa adalah salah dan tidak masuk akal. Ego Korah membuat mereka binasa. Yudas menasihati supaya jangan kita menjadi seperti mereka (ay. 16, 18-21).

Orang-orang yang melawan Musa

Pada waktu itu ada dua kelompok yang mengikuti Korah. Kelompok pertama ada 250 pemimpin, yang dikenal sebagai orang terpandang. Kelompok ke dua berisi orang-orang pembawa masalah, di antaranya Dathan dan Aviram. Sejak awal mereka sudah iri dan tidak suka pada Musa serta tidak puas dengan beban/kuk dari perintah Tuhan yang diajarkan Musa. Perbedaan kelompok ini tampak pada akhir hidup mereka (ada yang tertelan oleh bumi dan ada yang disambar api).

The Lubavitcher Rebbe mencatat ada konsep “matnot kehunah,” yaitu persembahan imam, yang menjadi keberatan utama Korah. Konsep ini artinya seseorang mendedikasikan bagian terbaik dari pekerjaan tangannya untuk tujuan kekal. Contohnya, seseorang yang bekerja tetap memberikan waktu terbaiknya untuk merenungkan firman Tuhan dan berdoa. Sehingga, orang tersebut sednag menaruh perkara-perkara rohani lebih tinggi daripada aspek materi di dunia. Pandangan tentang hubungan antara dunia fisik dan rohani inilah yang bertentangan dengan klaim Korah bahwa semua hal dan semua orang sama suci, sehingga tidka ada alasan untuk menganggap yang satu lebih penting (merujuk pada Musa) daripada yang lain.

KESIMPULAN

Hari-hari ini Tuhan sedang memulihkan segala sesuatu tentang torah (firman Tuhan) supaya selaras semuanya dengan rencana Tuhan yang besar. Mungkin kita tidak mengerti rencana Tuhan memberikan perintah, tetapi kita harus yakin bahwa perintah Tuhan akan membangun manusia roh kita. Contohnya, aturan tentang perpuluhan. Kita tidak tahu seperti apa dampak rohani memberi perpuluhan, yang bisa kita lihat adalah uang kita berkurang.  Dan, orang yang tidak mengerti hal ini, malah mengejek perintah Tuhan (seperti Korah dan pengikutnya). Kalau kita belum mengerti harusnya kita berdoa dan bertanya untuk meminta petunjuk Tuhan, jangan mengejek perintah Tuhan.

Karena, apa yang terjadi di dunia berhubungan dengan dunia roh. Dan, apa yang kita lakukan akan berdampak pada manusia roh kita (1 Korintus 2: 9, ay.12-16, Amp, CJB; Yoh. 20:29). Karena itu, berbahagialah kita yang melakukan perintah-perintah Tuhan.

Posted on October 19, 2017 in Sermon

Share the Story

Back to Top