LIFE COASTER

Kej. 29 : 1-32

Oleh :

Ps. Ivan Sebastian Tjahja

Jika kita membaca kisah tentang Rahel dan Lea, maka pada umumnya akan tertuju pada kenyataan bahwa rahel itu cantik, sedangkan Lea tidak. Kebanyakan sosok Lea digambarkan memiliki mata yang tidak berseri. Dan, banyak orang berpendapat bahwa matanya mengalami cacat atau julig. Ada juga yang berpendapat bahwa mata Lea yang sayu (weak, lemah) adalah gambaran dari keadaan hati Lea. Benarkah itu?

Terkadang dalam hidup, kita mengalami momen atau peristiwa seperti Lea atau Rahel. Karena, kehidupan itu seperti permainan Roller Coaster. Kadang di atas penuh hal-hal yang baik, dan kadang di bawah penuh dengan tekanan.

Mata Yang Lembut

Menurut Alkitab versi CJB (Complete Jewsh Bible) dituliskan bahwa Lea memiliki mata yang lembut. Sedangkan, menurut Rashi’s Commentary, mata Lea ‘lemah’ bukan berarti cacat atau juling, tetapi karena Lea banyak menangis. Karena, Lea menghadapi suatu tradisi bahwa sebagai anak sulung dia diharapkan berpasangan dengan Esau. Padahal semua orang tahu bahwa Esau, adalah seorang yang jahat dan jauh dari Tuhan. Lea menangis dan meratapi nasibnya yang nantinya harus menikahi Esau sampai bulu matanya rontok.

Sedangkan, Lea menginginkan pasangan hidup yang selaras dan mengenal Tuhan dengan baik. Karena, nama Lea, berasal dari kata Le’ah, yang artinya seorang yang capek, meratap karena sesuatu hal.  Sedangkan, arti nama Rahel adalah domba betina. Karena itu, tidak heran sosok Rahel adalah seorang yang bersih, putih, bersinar, dan gampang dikasihi.

Penderitaan Lea

  • Ketika Laban memberikan dia kepada Yakub, Lea merasa kalau hal ini tidak sesuai dengan hati nuraninya. Karena, Yakub tidak suka padanya dan bisa dianggap terlibat melakukan konspirasi dengan ayahnya untuk membohongi Yakub.
  • Lea merasa dipermalukan, karena semua orang pasti tahu bahwa itu adalah pesta pernikahan Yakub dengan Rahel, tetapi ayahnya justru memberikan dia kepada Yakub.
  • Penderitaan Lea juga tergambar dari nama anak sulung nya, Ruben, yang artinya “melihat”. Secara tersirat Lea ingin berkata, “Lihat aku melahirkan anak laki-laki, sebab Tuhan sudah memperhatikan kesengsaranku” (Kej. 29 : 32). Mengapa Lea memberikan nama Ruben yang artinya, “melihat”? Karena, mungkin Yakub selama ini tidak bersikap baik padanya. Lea berharap mungkin setelah melihat Ruben, sikap Yakub dapat berubah menjadi baik kepadanya.
  • Lea juga melahirkan lagi anak laki-laki yang diberi nama Simeon, karena dia merasa Tuhan sudah mendengar bahwa dia tidak dicintai oleh Yakub (Kej. 29:33). Nama Simeon, artinya “mendengar.” Karena, mungkin sikap Yakub sudah baik, tetapi perkataannya masih kasar. Sehingga, Lea berpikir bahwa suatu saat perkataan Yakub yang didengarnya bisa berubah lembut dan baik.
  • Lea melahirkan kembali anak laki-laki yang diberi nama Lewi ( Kej. 29 : 34 ), dalam terjemahan yang ditulis di CJB, artinya “melekat.” Lea berharap setelah melahirkan Lewi, Yakub akan selalu melekat atau bersama-sama terus dengan dirinya.

Hasil Akhir Penderitaan Lea

Penderitaan yang dialami oleh Lea ternyata justru memberikan dampak yang baik keturunannya kelak. Dia dibenci oleh Yakub, tetapi justru Tuhan sendiri yang datang menemui Lea dengan belas kasihan dan Tuhan mengingat air mata Lea.

Inilah beberapa hasil yang dialami oleh keterunan Lea, setelah dia mengalami penderitaan, anatara lain:

  1. Tuhan memberkati buah kandungan Lea.
  2. Lea melahirkan anak sulung bagi Yakub.
  3. Dari Lea lahir dua suku yang penting, yakni Lewi dan Yehuda.
  4. Lea beroleh kehormatan sebagai nenek moyang Musa, Raja Daud, dan Tuhan Yeshua.
  5. Lea dikuburkan dengan Yakub di Gua Makhpela bersama dengan Abraham dan Sara, sedangkan Rahel di tempat yang lain.
  6. Lea hidup bersama dengan Yakub lebih lama daripada Rahel.
  7. Tuhan mendengarkan doa-doa Lea.

Lea memiliki 6 orang anak laki-laki dan memiliki seorang anak perempuan yang diberi nama Dina (Kej. 30: 21). Nama Dina tercantum sebagai keturunan Lea. Dan, merupakan hal yang istimewa, karena nama Dina berarti “keadilan”. Setelah Dina lahir, Tuhan memberikan keadilan kepada Rahel dengan membuka kandungannya (Kej. 30:22).

Jika melihat dalam Perjanjian Baru, maka apa yang diperoleh Lea adalah hal yang sudah sewajarnya. Sebab, firman Tuhan mencatat bahwa ujian terhadap iman akan menghasilkan buah yang matang, yakni kehidupan yang sempurna (Yak 1:2-4). Dalam versi Amplified dituliskan bahwa pencobaan itu akan menghasilkan ketahanan, kesabaran, dan ketabahan. Dalam Roma 5: 3-4 (ILT) tertulis bahwa ketabahan akan menghasilkan karakter yang teruji dan memiliki pengharapan.

Tuhan juga memberikan anugerah yang cukup agar kita mampu menanggung masalah dengan jantan sebab justru kuasa-Nya dan kekuatan-Nya akan menunjukkan efektifitas yang luar biasa di dalam kelemahan-kelemahan kita (2 Kor 12:9, Amp).

KESIMPULAN

Sering di dalam kehidupan ini, kita berharap mengalami momen Rahel yakni kehidupan yang baik dan tanpa masalah. Namun, ternyata yang sering datang adalah momen Lea, yang penuh dengan tekanan dan masalah.

Kita harus mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, berdoa, dan bergantung pada Tuhan, sebab momen Lea akan menarik kita mendekat kepada Tuhan dan membawa kita pada tingkat rohani yang lebih tinggi.

Posted on September 4, 2017 in Sermon

Share the Story

Back to Top