Manusia dan Tuhan

Mazmur 8: 1-10

Oleh Ps. Lokky S. Tjahja

Biarlah setiap kita memiliki kerinduan untuk memuliakan Tuhan. Sebab, nama Tuhan adalah nama yang agung dan mulia. Dan, hidup kita juga harus memuliakan nama Tuhan.  Pada ayat 3, Tuhan Yeshua mengutip kembali dalam Matius 21: 16 bahwa dari mulut bayi-bayi yang sedang menyusu Tuhan menyiapkan puji-pujian. Jangan mengecilkan arti puji-pujian. Sebab, puji-pujian yang kita naikkan dengan segenap hati akan memberikan kekuatan kepada kita untuk membungkamkan mulut musuh-musuh kita dan pendendam.

Setan sering mengintimidasi anak-anak Tuhan melalui perkataan-perkataan yang keluar dari mulut besarnya. Seperti, auman harimau yang dapat membuat hati kita ciut. Auman antikris sudah terdengar dan ingin segera menerkam anak-anak Tuhan, tetapi itu bisa dikalahkan dengan puji-pujian. Saat umat Tuhan memuji dengan segenap hati, itu akan memberi kekuatan untuk melawan musuh dan membungkam mulut besar setan. Dalam situasi apa pun dalam hidup kita, puji-pujian akan memberikan kekuatan.

Manusia dan Tuhan (Mazmur 8:4-5)

Manusia hanyalah ciptaan. Bila dibandingkan dengan ciptaan Tuhan yang lain, manusia bukan apa-apa. Apalagi bila manusia membandingkan diri dengan Tuhan. Sadarkah kita bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta dengan jari-jari-Nya. Karena itu, betapa kecilnya kita di hadapan Tuhan. Namun, banyak manusia yang berani menyombongkan dirinya.

Orang sombong tidak hanya sekadar perkataan dan sika arogan, tetapi orang yang malas berdoa termasuk kategori orang yang sombong di hadapan Tuhan. Orang yang malas beribadah dan malas membaca firman merupakan orang yang sombong. Karena, kemalasan itu berarti seolah-olah manusia bisa hidup tanpa Tuhan dan tidak membutuhkan Tuhan. Padahal, otak manusia sangat kecil bila dibandingkan dengan semesta ciptaan Tuhan. Masihkah kita berani menyombongkan diri di hadapan Tuhan?

Mengenal Tuhan yang Benar

Bila kita mengenal Tuhan dan mengasihi-Nya dengan segenap hati, kita akan dijadikan biji mata-Nya. Sebab, Tuhan akan memerhatikan dan mengingat kita. Tuhan akan membimbing kita ke jalan yang benar dan dijauhkan dari segala bentuk kejahatan. Karena itu, kasihilah Tuhan dengan segenap hati, kekuatan, dan akal budi, serta hiduplah takut akan Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Rasul Paulus sangat sedih karena di Athena terdapat banyak patung-patung berhala (Kisah Para Rasul 17:23). Ada banyak orang yang menyembah kepada ilah-ilah yang tidak mereka kenal dan tidak bisa berbuat apa-apa. Punya mata, tetapi tidak bisa melihat. Punya telinga, tetapi tidak bisa mendengar. Juga, ada yang menyembah pada ilah yang terasa jauh. Dan, ada yang menyembah keada sesembahan yang sudah diganti akarnya. Karena itu, kita harus bersyukur bahwa kita sudah mengenal Tuhan yang benar, yang menciptakan semesta ini, bukan ilah-ilah lain yang mengaku-ngaku Tuhan (ayat 24-27).

Bapa di surga akan menyatakan diri-Nya pada kita, yang mengasihi Tuhan dengan memegang dan melakukan perintah-Nya. Karena itu, jangan mengaku mengasihi Tuhan, bila hidup kita melawan firman Tuhan. Contoh hidup yang melawan firman Tuhan, mulut yang berdusta, tidak mengembalikan perpuluhan, dan sebagainya. Jangan anggap enteng firman Tuhan dan jangan ge-er.

Siapakah kita?

Manusia hanyalah debu (Kejadian 3:19). Kita diambil dari debu dan akan kembali menjadi debu. Dan, debu tidak punya arti. Sepandai-pandainya manusia atau sehebat-hebatnya manusia atau sekaya-kayanya manusia, dia hanyalah debu di mata Tuhan (Pengkhotbah 12:7). Saat tiba waktunya, kita akan memertanggungjawabkan apa yang Tuhan sudah percayakan kepada kita.

Banyak orang tahu bahwa semua kekayaan dan kepandaian hanya titipan, bila meninggal juga tidak membawa apa-apa. Namun, mari kita ubah paradigma menjadi hal-hal yang Tuhan titipkan (harta, kepandaian, keahlian, dll) harus kita proyeksikan untuk perkara-perkara kekal. Selama kita hidup di dunia, hal-hal yang Tuhan titipkan pada kita harus diinvestasikan untuk perkara kekal. Sehingga, saat kita meninggalkan dunia, kita tidak membawa apa-apa, tetapi di kekalan kita akan menemukan hal-hal yang sudah kita investasikan saat masih di dunia. Namun, masih banyak orang yang tidak bijak, yang tahu bahwa semuanya adalah titipan; tetapi tidak diinvestasikan kepada hal-hal yang kekal. Sebab, bila tidak dinvestasikan ke surga, hidup dan mati kita akan sia-sia.

Kenali Tuhan dengan benar

Latih diri kita supaya menyembah Tuhan dengan benar, jangan hanya sekadar formalitas. Namun, kita harus menyadari bahwa kita sedang datang pada Sang Pencipta semesta yang mau memerhatikan dan mengindahkan kita. Karena, kita ini hanya debu. Karena itu, sikap yang benar dan harus kita lakukan adalah menjadikan Tuhan semakin besar dalam hidup kita (Yohanes 3:30). Pertumbuhan rohani yang benar adalah seperti ini. Yaitu, semakin seseorang bertumbuh menjadi dewasa rohani (bertumbuh dalam pengenalan pribadi Tuhan), dia tidak semakin sombong; tetapi semakin kecil. Sebab, semakin kita dekat dengan Tuhan, eksistensi (kemuliaan, kebesaran, dan kekudusan) Tuhan semakin berpengaruh dalam hidup kita. Dan, kita menjadi sadar akan keberadaan diri kita, yang hanya debu.

KESIMPULAN

Kita harus sadar bahwa kita hanya debu, sebab dibandingkan ciptaan-Nya yang lain; kita bukanlah apa-apa. Janganlah sombong hanya karena memiliki harta, kepandaian, keahlian, dan lain-lain. Sebab, semua itu hanya titipan dari Tuhan. Justru kita harus memakainya untuk diinvestasikan kepada kekekalan. Sehingga, saat kembali ke surga, kita menikmati hal-hal yang sudah kita investasikan. Karena itu, akuilah Tuhan dalam segala tindakan kita. Sebab, kita menyembah Tuhan yang bisa dipercaya.

Posted on September 15, 2017 in Sermon

Share the Story

Back to Top