Pola Hidup Orang Percaya di Bumi dan di Surga

Oleh: Pdt. Indro P

Kita punya Bapa yang sangat baik, sehingga Dia mencintai anak-anak-Nya. Bapa merindukan punya hubungan yang erat dan intim bersama anak-anak-Nya. Sebaliknya, kita juga harus punya kerinduan, seperti Tuhan. Yaitu, merindukan untuk selalu berjumpa dengan Dia. Kepedulian dan cinta-Nya kepada anak-anak-Nya dibuktikan, saat Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Dan, mereka dijadikan sebagai umat pilihan-Nya. Tuhan punya standard yang harus ditaati dan dipraktikkan oleh bangsa Israel, yang juga harus kita lakukan supaya bisa menjadi umat pilihan-Nya. Yaitu, kehidupan yang tidak sembarangan. Kehidupan tidak sembarangan, artinya kita mengenal apa saja yang menjadi kehendak Bapa dan yang bukan kehendak-Nya. Hal tersebut menjadi panduan atau pola hidup kita sebagai orang percaya. Bangsa Israel dapat tahu dan mengerti hal-hal apa yang Tuhan senangi dan tidak, melalui kemah suci.

Kemah suci menjadi panduan atau pola hidup orang percaya di bumi dan di surga

Kemah suci menjadi panduan kita untuk menjadi umat Tuhan yang sesuai dengan kehendak -Nya. Panduan ini bukan hanya berlaku saat kita hidup dan berada di bumi, melainkan saat kita berada di kehidupan kekal bersama Bapa. Jika kita di bumi sudah terbiasa melakukan ketetapan-ketetapan dalam kemah suci dengan ketaatan dan pertolongan Roh Kudus, maka secara otomatis dalam kehidupan kekal bersama dengan Bapa, kita juga dapat melakukannya.

Empat hal berhubungan dengan kemah suci

  1. Kebenaran mengenai kemah suci (Kel. 26:30, 29:43,46, Ibr. 8:1-5).

Kemah suci adalah tempat Tuhan bertemu dengan umat-Nya dan berfirman kepada mereka. Dan, hal tersebut merupakan pola yang ada di surga dan diterapkan di dunia. Jika kita memiliki hubungan yang intim terus bersama dengan Tuhan, maka dengan pertolongan Roh Kudus kita dapat menaati dan mengikuti pola hidup, seperti kemah suci. Sehingga, hal tersebut akan membawa kita lebih lagi mengenal pribadi Tuhan.

  1. Aturan dan tata cara melayani di kemah suci dalam perjanjian lama. Ada 9 bagian dari kemah suci, yaitu :
  • Pintu gerbang
  • Mezbah korban bakaran (Imamat 4:27-31), adalah tempat membakar binatang sebagai korban pengganti.
  • Bejana pembasuhan (Kel. 30:19-20), adalah tempat membasuh tangan dan kaki, sebelum masuk ruang suci.
  • Pintu ruang kudus (Kel. 25-40, Imamat 1-9)
  • Meja roti sajian (Imamat 24:5-6;8-9)
  • Pelita emas (Kel. 27:20)
  • Mezbah dupa emas (Kel. 30:7-8)
  • Pintu ruang maha kudus
  • Tabut perjanjian (Kel. 40:34-35,38)
  1. Penggenapan kemah suci dalam perjajian baru

Gambaran pintu gerbang (Yoh. 10:9), mezbah korban bakaran (Yoh. 1:36), bejana pembasuhan (Yoh. 3:5), dan pintu ruang kudus (Kis. 2:1-4) merupakan gambaran Roh Kudus yang dicurahkan. Karena itu, baptisan Roh Kudus sangat penting bagi kita di masa sekarang ini. Meja roti (2 Tim. 3:15-16) dan pelita (Mat. 5:14,16), artinya harus ada perubahan hidup menjadi lebih baik dan berdampak bagi orang-orang di sekitar kita. Gambaran mezbah dupa (Why. 5:8) dan pintu ruang maha kudus (Mat. 27:50-51).

  1. Aplikasi kemah suci sebagai pola hidup orang percaya di bumi dan di surga (Yoh. 16:13, 1 Kor. 14:4, 1 Kor. 14:4)

Kesimpulan

Kehidupan sebagai orang percaya, harus ada di dalam rencana dan kehendak Bapa saat di dunia dan di surga. Dan, kemah suci menjadi panduan kita untuk bisa tahu serta mengerti kehendak dan rencana-Nya di dalam kehidupan kita.

Posted on September 4, 2017 in Sermon

Share the Story

Back to Top