Senjata untuk melawan iblis

Mrs. Lokky S.Tjahja

Kita sadar bahwa hidup ini adalah peperangan dan tidak luput dari serangan si iblis. Tuhan mengatakan kepada kita (sebagai umat kepunyaan-Nya) bahwa hidup kita seperti domba yang berada di tengah-tengah serigala. Namun, hal ini sering tidak kita sadari, sehingga kita lupa untuk berjaga-jaga. Banyak orang Kristen tidak mengerti peperangan yang sesungguhnya. Mereka berpikir peperangan hanya hal-hal yang berkaitan dengan kesulitan-kesulitan di dunia (bagaimana supaya sukses, kaya, disembuhkan dari sakit-penyakit, dll).

Peperangan yang sesungguhnya adalah perjuangan untuk mendapatkan perkenanan Tuhan dan mencapai tujuan akhir, yaitu dapat bersama-sama dengan Tuhan. Fokus iblis bukan pada keadaan kita (sakit, sukses, kaya, dll), melainkan pada strategi untuk menjatuhkan dan menjauhkan kita dari Tuhan. Dan, fokus Tuhan adalah membuat kita tetap berada di jalan-jalan-Nya dan hidup berkenan di hadapan-Nya. Contohnya, Ayub yang mengalami penderitaan yang begitu rupa. Hal itu Tuhan izinkan terjadi untuk membawa Ayub menggenapi rencana yang lebih indah, yaitu mengenal Tuhan dengan benar dan lebih dalam. Itu juga yang Tuhan rindukan pada anak-anak-Nya. Karena itu, jangan anggap enteng lawan kita. Sebab, dia memiliki banyak cara dan tipuan. Namun, kita tidak perlu takut menghadapinya karena Bapa di surga tetaplah yang memegang kuasa dan otoritas. Dan, Tuhan sudah memerlengkapi kita dengan banyak hal supaya kita bisa menang dalam pertandingan/ peperangan. Hanya kita kurang menanggapi atau tidak menganggap serius yang Tuhan sediakan.

Kekuatan dari Tuhan

Salah satu perlengkapan yang Tuhan berikan kepada umat-Nya untuk bisa menghadapi peperangan (melawan dan membungkam musuh) terdapat dalam Mazmur 8:3 (ILT). Dasar kekuatan yang Tuhan berikan adalah puji-pujian (Matius 21:16). Apa maksud Tuhan tentang puji-pujian yang keluar dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu? Bukan bunyi yang keluar dari mulut, melainkan berkaitan dengan karakter kita (Matius 18:2-4). Kita tidak dapat masuk ke kerajaan surga kalau tidak memiliki perubahan karakter seperti seorang anak kecil.

Karakter seorang anak kecil (Matius 18:2-4)

Dalam versi Amplified dijelaskan karakter seorang anak kecil adalah trusting, lowly, loving, and forgiving.

  1. Trusting: percaya sepenuhnya. Seperti kita tahu, bayi dan anak-anak kecil percaya sepenuhnya pada orangtuanya. Pasrah pada apa yang orangtuanya lakukan pada dirinya. Tidak membantah dan penurut. Ini yang Tuhan inginkan, supaya kita percaya sepenuhnya pada Tuhan. Bukan bertingkah semau-maunya.
  2. Lowly: rendah hati. Tidak menyombongkan diri karena tahu tidak punya apa-apa. Tidak membangga-banggakan diri dan merasa hebat.
  3. Loving: kasih. Sering mengungkapkan kasih dengan tulus. Mengasihi Tuhan dengan tulus (segenap hati, pikiran, jiwa, dan kekuatan).
  4. Forgiving: mengampuni. Gampang untuk memberi maaf dan mengampuni. Tidak mengingat-ingat kesalahan.

Seorang anak kecil memiliki hati yang tulus dan tidak munafik. Seorang bayi selalu bersikap apa adanya. Karena itu, Tuhan mencari orang-orang seperti ini. Yang tulus dan tidak menyombongkan diri. Yang mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa, pikiran, dan kekuatan. Saat kita menaikkan puji-pujian di hadapan Tuhan, Bapa di surga akan bertindak menolong kita. Mungkin karena kondisinya tidak bisa memuji hanya bersenandung atau hanya berteriak (berseru). Namun, Bapa di surga melihat hati kita.

Memuji Tuhan

Setiap kali kita beribadah, sebenarnya adalah kesempatan yang Tuhan berikan untuk membungkam musuh dan mengalahkan iblis. Bila kita tidak menggunakan kesempatan itu dengan baik, kita akan mengalami banyak kekalahan dalam hidup. Namun, saat kita beribadah dan menaikkan puji-pujian dengan kesungguhan hati serta hidup seperti karakter seorang bayi (anak kecil); akan ada kuasa yang Bapa lakukan dalam hidup kita. Tuhan akan bertindak dan turun tangan menyelesaikannya. Tuhan memberikan pembelaan dalam hidup kita (2 Tawarikh 20: 20-22). Yosafat memilih orang-orang menyanyi dengan kesungguhan hati (dalam bahasa asli, halal). Artinya, menyanyi dan memuji Tuhan sampai seperti orang gila. Contohnya, Daud yang memuji Tuhan dengan menari-nari, menanggalkan pakaian kebesarannya, melupakan posisinya. Tuhan menghendaki kita menyanyi dan memuji Tuhan dengan segenap hati (Mazmur 138). Memuji dengan cara-Nya Tuhan, sesuai yang Tuhan mau. Memuji Tuhan sampai kuasa Tuhan dinyatakan. Tidak cara lain, selain kita menyanyi dan memuji seperti seorang bayi. Menyanyi di dalam ketulusan hati (sungguh-sungguh mengasihi Tuhan). Bukan hnaya di mulut, melainkan juga tampak dalam karakter kita.

Meskipun suara kita bagus dan menyanyi dengan indah, tetapi dalam kenyataan kita tidak mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh, dikuasai mammon dan berhala dunia; sehingga nyanyian yang kita naikkan tidak artinya dan tidak ada kuasanya. Kita menyanyi tentang kebesaran Tuhan, tetapi kita hidup sebarangan; pujian itu tidak ada kuasanya.

KESIMPULAN

Tuhan menghendaki pujian yang tulus dari hati kita dan hanya untuk Dia. Setiap perkataan yang keluar berasal dari hati kita. Karena, puji-pujian yang sungguh-sungguh akan menguncangkan surga.

Posted on September 22, 2017 in Sermon

Share the Story

Back to Top