SH’MA

KUNCI PENYEMBAHAN YANG BENAR DAN KEROHANIAN YANG SEJATI

Oleh : Pnt. Dr. Sunaryadi Setiawan, SpOG

 

Sh’ma bukan merupakan ajaran yang membawa kita kepada Yudaisme, melainkan merupakan pengajaran Tuhan Yeshua.

Agar kita tidak terjebak menjadikan Sh’ma seolah seperti “mantra”, maka kita harus tahu dengan jelas esensi dari Sh’ma sehingga kita bisa melakukannya dengan benar.

Seberapa Rohanikah Kita?

Pada umumnya, seorang melihat kehidupan rohani orang lain tidak dapat diukur dari lamanya orang itu berdoa, berpuasa, rajin ke gereja, melayani, dan lainya. Hal itu bukanlah tujuan dan buka esensinya. Kita bukan hanya sekadar menyembah Tuhan dengan pergi ke gereja atau berdoa, tetapi seberapa besar kita menaati dan melakukan Sh’ma.

Ketika Tuhan Yeshua ditanya tentang perintah yang terutama, Tuhan tidak menjawab dengan memberikan pengajaran yang baru; tetapi dengan mengutip Torah yang terdapat di Ulangan 6:4-5 dan Imamat 19:18, yakni “Shema Yisrael, YHWH Eloheinu, YHWH echad.”

Baruch Shem Kevod Malchuto Le Olam Vaed

Artinya, terberkatilah/terpujilah nama-Nya yang mulia, sedangkan “Malchuto Le Olam Vaed,” berarti kerajaan-Nya berlangsung selamanya.

Kalimat ini ditambahkan dalam Sh’ma supaya umat Tuhan yakin bahwa mereka adalah warga kerajaan surga dan memiliki seorang Raja. Karena itu, kita harus membawa setiap aspek kehidupan kita di bawah otoritas Tuhan Yeshua. Dan, ini merupakan hal yang penting untuk dilakukan.

Esensi Sh’ma

Sh’ma merupakan hal yang terpenting, terutama, terbesar, inti atau pusat dari Torah (kehendak Bapa). Karena itu, Sh’ma merupakan panggilan orang percaya dan pedoman kelakuan selama kita hidup di dunia. Oleh karena, Sh’ma berarti dengarkan dan lakukan.  Sh’ma bukanlah mantera, bukan jimat dan bukan pengganti doa Bapa kami atau doa dalam nama Tuhan Yeshua.

Namun, merupakan seruan atau deklarasi untuk memerintahkan diri kita tunduk di bawah otoritas Tuhan Yeshua dalam setiap asoek hidup. Kalimat “Adonai Echad“ mengajarkan kepada kita agar menjadikan Tuhan Yeshua menjadi Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita.

Iman akar Ibrani adalah iman Alkitab yang benar, yang tidak memisahkan kehidupan sekuler dan kehidupan rohani.

Setiap aspek kehidupan kita adalah kudus, bila dilakukan di bawah otoritas Tuhan Yeshua. Iman (emunah) adalah apa yang kita percayai harus kita lakukan. Apakah bertentangan dengan pengajaran Paulus?

Efesus 2:8-10 mengajarkan bahwa kita diselamatkan oleh anugerah melalui iman untuk melakukan perbuatan baik. Firman ini mengajarkan kepada kita bahwa iman adalah apa yang kita percayai dalam Tuhan Yeshua (perintah-perintah-Nya) itu juga yang harus kita taati (lakukan).  Jadi, 100 % kita bisa selamat karena pemberian Tuhan Yeshua. Dan, tanda materainya adalah perbuatan baik yang kita lakukan.

Iman percaya harus kepada Tuhan Yeshua, bukan iman kepada doktrin-doktrin. Karena itu, iman haruslah aktif, nyata, konkrit, membumi dan bukan hanya isi pikiran intelektual, pengetahuan, atau kredo. Iman adalah apa yang kita percayai (firman Tuhan) dan taati (lakukan/perbuatan) (Yak. 2:14, 20). Jadi, apakah iman akar Ibrani bertentangan dengan pengajaran Paulus? Tentu tidak.

KESIMPULAN

Sh’ma adalah panggilan untuk melakukan perbuatan baik (hati, pikiran, perkataan, perbuatan) yang Tuhan kehendaki selama kita di dunia, yakni mengasihi bapa dan sesama.

Saat berbuat baik dan benar, seorang tidak pernah sendirian karena perbuatan baik itu merupakan tempat pertemuan Tuhan dan manusia. Perbuatan baik dan benar sama dengan kita sedang bekerja sama dengan Tuhan. Dan, Tuhan Yeshua melalui Roh Kudus bekerja melalui kita.

Posted on September 22, 2017 in Sermon

Share the Story

Back to Top