Silent Killer

Ps. Ivan Sebastian

Tulisan dari seorang Chief Rabby di Inggris menjelaskan tentang sebuah uangkapan bahwa Firauan yang hendak memusnahkan satu generasi dari bangsa Israel bukanlah hal yang berbahaya, melainkan satu hal yang lebih mematikan bagi bangsa Israel, yaitu Laban. Kita tahu bahwa Laban adalah saudara Ribkah, Ibu Yakub. Tempat Yakub melarikan diri. Mengapa Laban menjadi hal yang sangat mematikan daripada Firaun?

Sekilas tentang Laban (Kejadian 29:13-15)

Saat itu Yakub dalam keadaan tertekan karena harus melarikan diri dari Esau, sehingga Ribkah menyuruhnya untuk ke tempat Laban (Kejadian 29:13-15). Ayat ini menggambarkan seolah Laban adalah orang yang baik hati. Sebuah komentar dari Rashi mengjelaskan tentang arti pelukan dan ciuman Laban pada Yakub, yaitu Laban tahu bahwa Yakub sangat kaya raya (keluarga Abraham). Sebab, sebelumnya Laban berjumpa dengan Eliezer saat hendak mengambil Ribkah sebagai istri Abraham. Laban melihat betapa banyaknya harta yang dibawa oleh Eliezer. Karena itu, Laban mendekap dan mencium Yakub, tangannya juga merogoh baju Yakub. Laban punya maksud lain, bukan karena mengasihi; bahkan ermasuk saat Laban, menawarkan untuk memberikan upah kepada Yakub (ay.15).

Yakub adalah gambaran orang percaya di zaman sekarang ini. Sedangkan, Laban adalah gambaran daya tarik dunia. Laban yang menyambut Yakub seolah ingin menyatakan bahwa dia dan Yakub adalah pribadi atau latar belakang yang sama. Karena itu, Laban menawarkan pekerjaan, upah, bahkan kekayaan pada Yakub. Kita tahu akhirnya, Laban menipu Yakub (Kejadian 29:19, 26). Tanpa disadari Yakub sudah menjadi budak Laban. Itu juga yang dilakukan oleh anak-anak Tuhan zaman sekarang. Namun, pelan-pelan Yakub menyadari dan mengambil keputusan.

Keputusan Yakub (Kejadian 30:25-26)

Sebuah interpretasi tentang Laban menjelaskan bahwa saat itu Laban tidak punya anak laki-laki (tetapi setelah Yakub tinggal di situ, Laban mendapat anak laki-laki Kej.31:1). Laban tetap berusaha supaya Yakub tidak pergi, tetapi Yakub sudah mengambil keputusan (ay.28-30; 34-35). Akhirnya, Tuhan memberkati Yakub dan membalik keadaan (ay. 42-43). Yakub yang sebelumnya tidak punya apa-apa dan diberi hewan yang lemah, tetapi saat Yakub sadar bahwa dia harus kembali ke “asalnya;” Tuhan membalik semua keadaan bahkan Tuhan tambah-tambahkan berkat. Saat Yakub dan keluarganya berkemas dan pergi, tetapi Laban mengejar mereka. Sebelum Laban berjumpa dengan Yakub, Laban bermimpi (Kejadian 31:24, 25-32, 36-42).

Zaman sekarang banyak anak-anak Tuhan yang menghabiskan waktunya bekerja siang dan malam, tetapi tidak pernah cukup. Karena itu, bila kita tidak menyadari keberadaan dan tujuan hidup Tuhan atas kita;  kita akan bekerja siang malam, tetapi saat pulang tidak membawa apa-apa. Kita harus menyadari bahwa segala hal yang bisa kita miliki, karena Elohim menyertai dan memberkati kita.

Jawaban Laban (Kejadian 31:43)

Laban ingin Zaman sekarang, gambaran Laban yaitu, dunia yang seolah mengatakan pada kita bahwa segala harta benda dan keturunan kita diberikan oleh dunia. Karena itu, mereka harus hidup seperti hal umum yang dilakukan dunia. Misalnya, saat banyak orang di dunia merayakan Natal atau makan makanan yang najis, seolah kita tidak bisa lepas dari komunitas dan “dipaksa” untuk melakukan hal yang sama. Hal-hal inilah yang disebut sebagai “silent killer.” Bila Firaun ingin membinasakan sebuah generasi dari bangsa Israel, seorang Laban justru sedang menghentikan sebuah “warisan janji Tuhan” atas Abraham.

Sekarang ini “warisan janji Tuhan” sedang hilang di antara orang-orang percaya dan hal inilah yang Tuhan inginkan supaya kita sadar.

KESIMPULAN

Hal yang harus kita pelajari melalui kisah ini adalah kita harus sadar dan tahu tujuan Tuhan (kembali ke asal). Kita harus fokus pada tempat asal kita, yaitu Bapa di surga. Saat itu, Tuhan akan intervensi hidup kita, bahkan Tuhan akan memperlengkapi hidup kita dengan segala hal. Namun, banyak anak Tuhan ingin masuk surga, tetapi tidak mau tahu cara untuk masuk ke surga. Mereka lebih suka mendengar tentang bagaimana hidup dan mendapat harta “di rumah Laban.” Mereka lupa bahwa asalnya bukan “rumah Laban.” Kita tidak akan pernah bisa naik (ke rumah Bapa kita), kalau kita terus mengarahkan fokus kita ke bawah (rumah Laban/ dunia). Karena itu, ingatlah dari mana kita berasal. Bersyukurlah, jangan bersungut-sungut dengan apa yang kita hadapi.

Posted on January 16, 2018 in Sermon

Share the Story

Back to Top