Umat Sisa

Zefanya 3:1-20

Mrs. Lokky S. Tjahja

Kita telah banyak mendengar tentang ‘umat sisa.’ Yaitu, umat yang Tuhan sisakan, karena Tuhan sedang bersih-bersih. Sebab, Tuhan melihat bahwa dosa yang diperbuat manusia sudah sangat parah (keterlaluan). Namun, saat Tuhan sedang melakukan bersih-bersih, selalu ada ‘umat sisa’ (umat yang ditinggalkan). Karena, mereka masih berkenan di hadapan dan hati Tuhan, seperti pada zaman Nuh, Lot, dan Elia. Dan, di zaman sekarang ini, kejahatan yang diperbuat oleh manusia semakin hari semakin parah dan memuncak, sehingga membuat Tuhan murka dan akan menghancurkan dunia ini. Namun, firman-Nya bahwa ada satu umat yang akan diselamatkan sebagai umat sisa. Umat sisa yang Tuhan maksudkan digambarkan dalam sosok perempuan di Why. 12: 6, yaitu gambaran gereja Tuhan yang dipelihara dan dilindungi. Gereja Tuhan yang benar-benar melakukan kehendak dan rencana Tuhan. Karena itu, kita harus belajar dan tahu tentang umat sisa, supaya kuasa-kuasa gelap tidak menggiring kita ke tempat yang lain (keluar dari rencana dan kehendak-Nya). Sehingga, sangat mudah dan gampang untuk disesatkan dengan pengajaran-pengajaran yang ada.

Dosa semakin terus bertambah (Zefanya 3:1-7)

Dosa semakin hari semakin bertambah jahat, sehingga Tuhan murka. Murka-Nya dinyatakan seperti dalam peristiwa tsunami, badai, gempa, dan lainnya. Hal ini sebagai peringatan kepada manusia untuk segera bertobat (berbalik arah kepada hal yang benar dan sesuai dengan ketetapan Tuhan).

Umat sisa yang dilindungi dan dipelihara Tuhan (Zefanya 3:8-13)

Tuhan akan menyisakan umat sisa bagi mereka yang melakukan ketetapan-ketetapan Tuhan dan mencari Dia dengan segenap hati.

Gambaran umat sisa

  1. Umat yang tidak sombong (Zefanya 3:11)

Manusia punya karakter dasar, yaitu sombong. Dan, kita tidak menyadari hal tersebut. Ada dua hal yang membuat manusia menjadi lebih sombong, yaitu kepandaian yang dunia berikan dan kekayaan. Kesombongan tanpa disadari terjadi dan dialami oleh semua orang dan golongan. Sebuah artikel yang mengatakan bahwa kesombongan ada tiga tingkat. Tingkat pertama yaitu materi (lebih kaya, lebih berkuasa, jabatan yang lebih tinggi, lebih cakap dalam hal fisik, lebih terhormat). Tingkat ke dua, kesombongan yang disebabkan oleh kepandaian, kepintaran atau kecerdasan (merasa lebih rajin, lebih berkompeten, lebih berpengalaman, lebih berwawasan). Dan, tingkat ketiga, adalah kebaikan (menganggap lebih bermoral, lebih murah hati, lebih semangat beribadah, lebih banyak memberikan kontribusi dan meremehkan pemberian orang lain, lebih rohani). Ketiga tingkat tersebut tanpa disadari terjadi di dalam kehidupan kita dan sangat sulit untuk bisa mengetahuinya. Kesombongan sangat tidak disukai oleh orang-orang yang ada di sekitar kita, bahkan Tuhan. Dan, untuk tingkat yang ke tiga sangat sulit untuk kita bisa mengetahuinya dan menyadarinya.

Karena itu, kita perlu intropeksi diri dan butuh orang lain untuk memberikan masukan, kritikan, dan teguran. Dalam menanggapi hal-hal itu, seharusnya kita bisa rendah. Sebab, hal tersebut baik bagi kita. Saat, kita sedang memberikan masukan, kritikan atau teguran, jangan menghakimi. Sebab, kita hanya melihat apa yang di luar saja. Jika sikap sombong terus dibiarkan (tidak mau dengan kerendahan hati menerima masukan, kritikan, teguran, dll), maka akan membuat orang tersebut tidak bisa dibentuk, hatinya menjadi kaku, dan tidak ada keinginan untuk berubah.

Kesombongan di hadapan Tuhan yang tidak kita sadari, adalah tidak menghargai Tuhan (seperti meremehkan firman-Nya, menolak undangan Tuhan, dan meremehkan hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara rohani). Lebih mementingkan keperluan pribadi dibandingkan datang untuk beribadah kepada Tuhan (Sabat, doa estafet, komsel, dll). Umat yang tidak sombong, artinya benar-benar menyadari bahwa diri kita ini tidak bisa berbuat apa-apa tanpa pimpinan Tuhan.

  1. Umat yang miskin dan lemah (Zefanya 3:12)

Artinya, hati kita tidak terikat dan melekat pada harta dunia. Dan, Tuhan sangat mencintai dan mengasihi umat yang seperti itu. Kita harus menyadari bahwa harta dan kekayaan yang Tuhan berikan afalah milik Tuhan. Dan, kita hanya sebagai alat untuk mengelola bagi kemuliaan nama-Nya. Ada konsekuensi yang akan kita tanggung, bila kita mengatakan bahwa harta dan kekayaan adalah milik Tuhan. Karena, kita harus siap untuk melepaskan harta atau kekayaan kapan dan berapa saja, saat Tuhan menginginkannya. Tuhan tidak mau anak-anak-Nya terikat dengan mammon (harta, uang). Sebab, cinta uang adalah akar dari segala kejahatan (1 Tim. 6:10). Jika seseorang cinta akan uang, maka pikirannya akan rusak dan ada perubahan karakter (lebih mengutamakan kepuasan kedagingan).

  1. Umat yang tidak melakukan kesalahan, bibir bersih, tidak berdusta, dan tidak menipu (Zefanya 3:12)

Kita harus berhati-hati dengan perkataan kita. Tidak membiasakan berkata dusta atau berbohong. Karena, semakin sering membiasakan mulut berkata tidak benar (dusta atau bohong) akan semakin sulit untuk membuang hal-hal tersebut. Jika seseorang sudah terbiasa berbohong dan menipu, maka setiap kebohongan yang keluar dari mulutnya dan tipuan yang dilakukannya dianggap sebagai hal yang biasa. Jika kita mau menjadi umat sisa dan dibenarkan Tuhan, maka kita harus berani berkata ya, bila ya; dan berkata tidak, bila tidak (Mat. 5:37).

Kesimpulan

Menjadi umat sisa di hadapan Tuhan, berarti seluruh kehidupan kita harus sesuai dengan kemauan dan kehendak Tuhan. Kemauan dan kehendak-Nya bisa kita ketahui, apabila kita terus rindu untuk lebih lagi mengenal Dia. Dalam Zefanya 3:14-20, Tuhan memberi gambaran bahwa umat sisa adalah Bukit Zion. Karena itu, kita harus punya hubungan bersama dengan Tuhan, sehingga Roh Kudus-Nya akan memimpin dan menuntun setiap langkah kita, yaitu dari kemulian kepada kemuliaan.

Posted on August 11, 2017 in Sermon

Share the Story

Back to Top